Senin, 01 April 2013



UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)

Mata Kuliah                :  Filsafat Umum
Jurusan/Jenjang        :  PAI /S1
Semester/Kelas         :  II/A,B,C, dan D
Dosen                         :  Dr. Mohamad Erihadiana

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan ringkas dan jelas!

1.  Jelaskan apa pengertian filsafat, faktor pendorong timbulnya filsafat, peranan filsafat,  sistematika dan manfaatnya secara umum!
2.  Filsafat memiliki pengaruh penting terhadap kehidupan termasuk pendidikan, coba Saudara berikan contoh sederhana pengaruh filsafat terhadap pendidikan terutama kepada guru dan orang tua dalam proses pendidikan sehari-hari!
3. Filsafat berkembang tidak hanya di “Barat”, tetapi juga di “Timur”. Coba Saudara jelaskan perkembangan filsafat timur khususnya filsafat  yang berkembang di India (Hindu dan Budha) dan di China (Konfucius dan Tao)!
4.  Orang yang diberi  gelar sebagai Bapak Filsafat adalah Thales, sedangkan Socrates melawan orang-orang sofis dengan metode dialektikanya. Berikutnya muncullah Plato dan Aristoteles. Coba Saudara ceritakan dengan bahasa sendiri proses perkembangan filsafat dari Thales sampai Aristoteles!
5.  Abad pertengahan adalah abad kegelapan bagi Eropa, tetapi bagi Islam abad pertengahan adalah puncak kejayaan. Coba Saudara jelaskan pernyataan tersebut disertai contoh dan alasan!
6.  Tiga aliran filsafat yaitu rasionalisme, empirisme, dan positivisme menggiring manusia menjadi sekuler, mengapa? Jelaskan!
7.  Coba Saudara jelaskan perbedaan filsafat modern dengan filsafat postmodernisme dengan mengutip pemikiran tokoh postmodernisme!

Kamis, 06 Desember 2012

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) SUSULAN

Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan Islam
Jurusan/Jenjang : Pend. Bahasa Arab/kualifikasi
Semester :
Dosen/Asisten : Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan ringkas dan jelas!
1. Manusia memiliki naluri alamiah (al-naz’ah al-fithriyyah) atau fithrah untuk mengenal Allah Swt dan beriman kepada-Nya, mengesakan-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan beribadah, berlindung dan minta pertolongan kepada-Nya dari berbagai kesulitan dan bahaya. Al-Quran menunjukkan naluri alamiah tersebut melalui firman Allah Swt. dalam Qs. Al-Rum (30): 30. Berdasarkan ayat tersebut buatlah analisis mengenai hakikat fithrah dalam perspektif al-Quran dan al-Sunnah
2. Paradigma pendidikan Islam menggunakan empat pendekatan yaitu:
Pendekatan Pragmatis (islamisasi pengetahuan)
Pendekatan Skriptualis
Pendekatan Filosofis
Pendekatan Tasawuf
3. Berikan penjelasan tentang empat pendekatan tersebut dan terangkan implikasi masing-masing pendekatan dalam pengembangan teori pendidikan Islam.
4. Pengembangan Pendidikan Agama Islam di masyarakat harus memuat sekurang-kurangnya empat komponen yaitu tujuan, program, metode, dan evaluasi. Buatlah sebuah contoh rancangan pengembangan PAI di masyarakat yang menggambarkan empat komponen tersebut.
5. berdasarkan hasil kajian Anda, Jelaskan secara singkat konsep pendidikan menurut salah satu tokoh pendidikan Islam yang meliputi tujuan, materi, metode, dan evaluasi.

SELAMAT BEKERJA

Sabtu, 17 November 2012

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) SEMESTER GANJIL
TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Mata Kuliah : Perencanaan Pembelajaran
Jurusan/Sms : PAI/3
Dosen/Asisten: Prof. Dr.H. Afifuddin.M.M
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

1.Jelaskan pengertian dari:

a. Perencanaan
b. Pembelajaran PAI
c. sistem Perencanaan Pembelajaran PAI

2.Jelaskan apa saja fungsi dan tujuan perencanaan pembelajaran PAI!

3.Jelaskan Langkah-langkah perumusan Kompetensi Dasar, Indikator dan Materi Pokok (kognitif,afektif,psikomotor)kedalam indikator, berikan contoh konkretnya dalam desain perencanaan pembelajaran

4.Jelaskan dengan menggunakan contoh perbedaan antara :
a.Tujuan dan indikator
b.Strategi, pendekatan dan metode pembelajaran
c.Pengukuran, penilaian, dan evaluasi

5.Jelaskan langkah-langkah pembuatan Program Tahunan, Program Semester dan perhitungan Minggu efektif serta jelaskan fungsi ketiganya dalam perencanaan pembelajaran

Selasa, 30 Oktober 2012

SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Mata Kuliah : Pengelolaan Pendidikan
Jurusan/Semester/Kelas : PBA/3/A dan B
Dosen : Dr. Ara Hidayat, M.Pd/Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

Jawablah Pertanyaan di bawah ini dengan ringkas dan jelas!
1. Uraikan secara jelas konsep-konsep manajemen/pengelolaan di bawah ini:
a. Definisi manajemen
b. Falsafah manajemen
c. Teori manajemen
d. Prinsip-prinsip Manajemen

2. Fungsi manajemen secara umum adalah perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian,dan pengawasan. coba Anda jelaskan keempat fungsi manajemen tersebut!

3. Pengelolaan pendidikan memiliki kerangka, konsep dasar, tujuan, serta manfaat.Jelaskan keempat hal tersebut berdasarkan pemahaman Anda dari literatur yang Anda baca!

4. Dalam perspektif pengelolaan pendidikan, pendidikan nasional memiliki tata nilai dan sistem, deskripsikan secara ringkas tata nilai dan sistem pendidikan nasional dan dampaknya terhadap kualitas pendidikan di Indonesia!

5. Apa saran Saudara agar pengelolaan pendidikan di madrasah lebih bermutu(gunakan teori manajemen pendidikan sebagai argumentasi pendapat Saudara)

Minggu, 21 Oktober 2012

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
PROGRAM KUALIFIKASI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan Islam
Jurusan/Jenjang : PBA /S1
Semester : 3

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan ringkas dan jelas!
1. Jelaskan secara ringkas pengertian pendidikan secara bahasa dan istilah dengan mengacu kepada istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, tadris, dan tazkiyah.
2. Jelaskan istilah-istilah di bawah ini serta berikan contoh:
a. Filsafat dan filsafat pendidikan
b. Ilmu Pendidikan dan Ilmu Pendidikan Islam
c. Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam
3. Paradigma pendidikan dalam perspektif Islam menggunakan empat pendekatan yaitu:
a. Pendekatan Pragmatis (islamisasi pengetahuan)
b. Pendekatan Skriptualis
c. Pendekatan Filosofis
d. Pendekatan Tasawuf
Berikan penjelasan tentang empat pendekatan tersebut dan terangkan implikasi masing-masing pendekatan dalam pengembangan teori pendidikan Islam.
4. Terdapat beberapa karakteristik pendidikan Islam yaitu
 عملية إنسانية
 عملية دائمة ومستمرة
 عملية تكاملية بين الفرد والمجتمع
 عملية نمو متوازن
 عملية اجتماعية
 عملية مكتسبة
 عملية تعاونية
Coba jelaskan maksud dari karakteristik pendidikan Islam tersebut!
5. Apa saja fungsi pendidikan Islam itu, jelaskan!
6. Jelaskan pendapat Saudara tentang landasan pendidikan khususnya yang digunakan sebagai dasar ilmu pendidikan Islam serta ilmu bantu yang harus dikuasai oleh mahasiswa yang akan menjadi guru/pendidik baik perspektif pendidikan secara umum maupun dalam perspektif Islam.

Senin, 23 Juli 2012

UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP (SUSULAN)
TAHUN AKADEMIK 2011/2012

Mata Kuliah : Penelitian Tindakan Kelas
Jurusan/Kelas : PAI/ D dan E
Semester : VI (Enam)


1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dipengaruhi oleh tradisi penelitian kualitatif yang didasari oleh postmodernisme. Jelaskan pernyataan tersebut dan berikan contoh konkret pelaksanaan PTK!
2. Jelaskan landasan filosofis PTK dilihat dari model PTK, makna PTK, Makna Kebenaran dalam PTK, dan etika peneliti dalam PTK!
3. PTK menuntut guru dan calon guru untuk meneliti, jelaskan apa saja alasan yang menyebabkan guru harus meneliti!
4. Jelaskan secara ringkas langkah-langkah PTK!
5. Jelaskan apa saja kriteria keberhasilan PTK!

Senin, 26 Maret 2012

UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK 2011 / 2012

Mata Kuliah : Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Jenjang/Jurusan : S.1 /PAI
Semester/Kelas : VI/D dan E
Dosen : Drs. Murip Yahya, M. Pd
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

1. Penelitian Tindakan Kelas memiliki tujuan, konsep dasar, dan karakteristik, jelaskan ketiga hal tersebut secara ringkas
2. PTKmemiliki perberbedaan dengan penelitian formal jelaskan perbedaan tersebut berdasarkan aspek: tujuan, masalah,
peneliti yang terlibat, sampel, dan metodologi.
3. PTK memiliki bidang garapan dan bentuk tertentu. Sebutkan bidang garapan dan bemtuk-bentuk PTK berdasarkan literatur yang
Anda Baca!
4. Selain memiliki kelebihan PTK juga memiliki kelemahan, menurut analisis Saudara apakah apa saja kelemahan dan kelebihan
PTK serta dapatkah PTK disebut sebagai sebuah penelitian ilmiah berikan penjelasan berdasarkan acuan literatur!
5. Dalam PTK dikenal istilah siklus, terangkan apa pengertian siklus dan pendapat para ahli tentang siklus dalam PTK
6. Deskripsikan secara ringkas langkah-langkah pelaksanaan PTK dengan menggunakan bagan atau gambar!

Minggu, 25 Maret 2012

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) GENAP
TAHUN AKADEMIK 2011/2012
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan
Jurusan/Jenjang : PGMI/S1
Semester : 2 (Dua)
Dosen/Asisten :Drs. H. M. Syarifuddin, M.Pd
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan ringkas dan jelas!
1. Jelaskan secara ringkas dan jelas, apa saja manfaat Mata Kuliah Ilmu Pendidikan bagi mahasiswa dan alasan-alasan apa yang menyebabkan Mata Kuliah Ilmu Pendidikan perlu dipelajari oleh Mahasiswa calon pendidik.
2. Jelaskan istilah-istilah di bawah ini serta berikan contoh:
a. Pendidikan
b. Filsafat dan filsafat pendidikan
c. Ilmu Pendidikan dan Ilmu Pendidikan Islam
d. Pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam
3. Paradigma pendidikan dalam perspektif Islam menggunakan empat pendekatan yaitu:
a. Pendekatan Pragmatis (islamisasi pengetahuan)
b. Pendekatan Skriptualis
c. Pendekatan Filosofis
d. Pendekatan Tasawuf
Berikan penjelasan tentang empat pendekatan tersebut dan terangkan implikasi masing-masing pendekatan dalam pengembangan teori pendidikan Islam.
4. Ilmu pendidikan menggunakan pendekatan interdisipliner jelaskan pernyataan tersebut berdasarkan kajian literatur yang Saudara baca!
5. Jelaskan pendapat Saudara tentang landasan pendidikan khususnya yang dingunakan sebagai dasar ilmu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah/SD serta ilmu bantu yang harus dikuasai oleh mahasiswa yang akan mengajar di MI/SD baik perspektif pendidikan secara umum maupun dalam perspektif Islam.
6. Terdapat beberapa istilah guru dalam perspektif Islam, coba Anda jelaskan istilah-istilah tersebut dengan mengacu kepada al-Quran dan al-Hadits!

SELAMAT BEKERJA
UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2011/2012

Mata Kuliah : Pengelolaan Pendidikan
Jurusan/Semester/Kelas : PGMI/IV/A dan B
Dosen : Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

Jawablah Pertanyaan di bawah ini dengan ringkas dan jelas!
1. Jelaskan secara komprehensif pengertian Administrasi, pengelolaan/manajemen, dan kepemimpinan serta perbedaan maupun keterkaitan ketiga istilah tersebut menurut para ahli!
2. Pengelolaan pendidikan memiliki kerangka, konsep dasar, tujuan, serta manfaat. Jelaskan keempat hal tersebut berdasarkan pemahaman Anda dari literatur yang Anda baca!
3. Dalam perspektif pengeloaan pendidikan, pendidikan nasional memiliki tata nilai dan sistem, deskripsikan secara ringkas tata nilai dan sistem pendidikan nasional menurut pemahaman Anda serta jelaskan keterkaitannya dengan visi,misi, strategi pendidikan nasional dan dampaknya terhadap kualitas pendidikan di Indonesia!
4. Jenis perencanaan pendidikan menurut tingkatannya di antaranya adalah: (1) perencanaan strategik (renstra); (2) perencanaan koordinatif; dan (3) perencanaan operasional. Bagaimana implementasi ketiga jenis perencanaan tersebut dalam pendidikan, jelaskan dengan menggunakan contoh!
5. Dalam pengelolaan pendidikan kepala sekolah dan supervisor (pengawas) memiliki peranan penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, baik kepala sekolah dan supervisor (pengawas) harus memiliki standar kualifikasi dan standar kompetensi tertentu. Setelah Anda membaca secara lengkap standar kualifikasi dan standar kompetensi kepala sekolah dan supervisor (pengawas) buatlah analisis berdasarkan unsur manajemen (perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengawasan) efektivitas standar kualifikasi dan standar kompetensi kepala sekolah dan supervisor (pengawas) dalam praktik pendidikan dan buatlah saran/kritik terhadap standar kualifikasi dan standar kompetensi kepala sekolah dan pengawas.

SELAMAT BEKERJA

Sabtu, 25 Februari 2012

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
PROGRAM DUAL MODE SYSTEM

MATA KULIAH :PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL
JURUSAN/SEMESTER : PGMI/VII
DOSEN : Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

1. Terdapat istilah pendidik, pendidikan, dan guru. Jelaskan pendapat saudara tentang pengertian pendidikan, pendidik dan guru!
2. Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi transfer of knowledge atau alih ilmu pengetahuan, tetapi juga berfungsi untuk menanamkan values (nilai) serta character building (membangun karakter) peserta didik secara berkelanjutan. Oleh karena itu guru harus memiliki berb agai kecerdasan. Sebutkan dan jelaskan berbagai kecerdasan yang harus dimiliki guru!
3. Guru adalah profesi yang harus dilakukan oleh orang yang profesional. Sebutkan pengertian profesi dan syarat-syarat profesi serta pengertian profesional dan kompetensi profesional!
4. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi. Jelaskan kualifikasi dan kompetensi apa saja yang harus dimiliki guru berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru.
5. Guru bertugas sebagai learning agent. Learning Agent atau agen pembelajara. Sebutkan dan jelaskan apa saja peran guru sebagai learning agent

Sabtu, 24 Desember 2011

UJIAN AKHIR SEMESTER TAHUN AKADEMIK 2011 / 2012 Mata Kuliah : Landasan Pendidikan Jenjang/Program Studi : S.1 /Pendidikan Bahasa Arab Semester : 1 (Satu) Dosen : Prof. Dr. H. Afifuddin, M.M Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd Jawablah Soal-Soal di bawah ini : 1. Jelaskan secara ringkas dan jelas, apa saja manfaat Mata Kuliah Landasan Pendidikan bagi mahasiswa dan alasan-alasan apa yang menyebabkan Mata Kuliah Landasan Pendidikan perlu dipelajari oleh Mahasiswa calon pendidik. 2. Jelaskan hasil analisis Anda tentang pengertian belajar, teori belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, dan teori motivasi dalam pembelajaran. 3. Manajemen mutu pendidikan akan berdampak kepada efisiensi program pendidikan dan meningkatnya kualitas serta produktivitas lembaga. Coba Anda jelaskan apa pengertian manajemen mutu dan jelaskan pula proses manajemen mutu mulai berdasarkan prinsip Total Quality Management (TQM) . 4. Dalam sistem pendidikan Indonesia dikenal lembaga pendidikan umum yaitu SD, SMP, SMA/SMK dan lembaga pendidikan madrasah yaitu MI, MTS, MA/MAK. Jelaskan secara singkat apa perbedaan dan persamaan antara sekolah dan madrasah. Kemudian buatlah analisis sederhana bagaimana pengembangan madrasah yang baik berdasarkan hasil pengamatan Anda. 5. Buatlah contoh inovasi pendidikan di sekolah/madrasah dalam pelaksanaan pendidikan baik sistem, perencanaan, metode, media, dan evaluasi. 6. Guru dalam Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen wajib memiliki kualifikasi dan kompetensi. Jelaskan pengertian kualifikasi dan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru! 7. Jelaskan secara ringkas pengertian: a. Life skill b. Long lifec education SELAMAT BEKERJA

Kamis, 03 November 2011

ujian tengah semester metris

UJIAN TENGAH SEMESTER

Mata Kuliah : Metodologi Penelitian
Jurusan/Semester : PGMI A,B.C/VII
Dosen : Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

Jawablah Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jelas!
1. Jelaskan mengapa riset digunakan untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah?
2. Sain sebagai proses, tahapannya merupakan metode ilmiah; sebutkan secara garis besar!
3. Kemukakan definisi Riset yang meliputi: essensinya, karakteristik pokoknya, dan tujuannya!
4. Kemukakan secara jelas jenis riset didasarkan kepada:
a. Metodenya; b. Fungsinya c. tujuannya
5. Uraikan secara garis besar perbedaan yang paling pokok antara Riset Kuantitatif dengan Kualitatif!
6. Jelaskan secara singkat makna konsep-konsep berikut:
a. Variabel; b. Teori;
c. Sampel d. angket
7. berikan masing-masing satu contoh judul penelitian berdasarkan jenis penelitian di bawah ini kemudian buatlah rumusan masalahnya:
a. eksperimen
b. Penelitian Tindakan Kelas
c. Studi Kasus
d. survai
8. Beri satu contoh (BUKAN DEFINISI!) dari konsep-konsep berikut:
a. Fenomena
b. Variabel
c. Sampel
d. Teknik Pengumpulan Data
9. Di dalam penelitian kualitatif terdapat penelitian interaktif dan non-interaktif, jelaskan perbedaannya keduanya serta jenis-jenis penelitian tersebut

Rabu, 03 Agustus 2011

NILAI DALAM PANDANGAN ISLAM
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd
Teori nilai di dalam Islam dikenal dengan istilah akhlak yang semakna dengan etika. Perkataan akhlak sendiri berasal dari bahasa Arab, jamak dari kata “khulukun” ( خلق). Secara etimologi akhlak diartikan sebagai budi pekerti, tingkah laku atau tabiat.
Walaupun akhlak sering dimaknai dengan etika atau etika Islam, tetapi akhlak memiliki karakteristik yang berbeda dengan etika. Kriteria tersebut adalah seperti tecantum di bawah ini.
(a) Mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.
(b) Sumber moral, ukuran baik buruknya perbuatan, didasarkan kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.
(c) Bersifat universal dan konperhensif, dapat diterima oleh seluruh umat manusia di segala waktu dan tempat.
(d) Memiliki ajaran-ajaran yang praktis dan tepat, sesuai dengan fitrah dan akal manusia (manusiawi).
(e) Mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran sinar petunjuk Allah menuju kepada keridhoannya.

1. Sistem Nilai Islam
Sistem nilai yang dijadikan kerangka acuan untuk menjadi rujukan cara berperilaku lahiriah dan rohaniah manusia adalah nilai yang diajarkan oleh Islam sebagai wahyu Allah SWt. Nilai dan moralitas Islam adalah satu kebulatan nilai yang mengandung aspek normatif (kaidah, pedoman) dan operatif (menjadi landasan amal perbuatan).
Nilai-nilai dalam Islam mengandung dua kategori arti. Pertama, dilihat dari segi normatif yaitu pertimbangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, hak dan batal, diridhai dan dikutuk oleh Allah SWT. Kedua, dilihat dari segi operatif adalah fardhu, sunnat, mubah, makruh, dan haram.
Nilai-nilai yang tercakup di dalam sistem nilai Islam merupakan komponen atau sub sistem dari:
(a) Sistem nilai kultural yang senada dan senafas dengan Islam.
(b) Sistem nilai sosial yang memiliki mekanisme gerak yang berorientasi kepada kehidupan sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.
(c) Sistem nilai yang bersifat psikologis dari masing-masing individu yang didorong oleh fungsi-fungsi psikologisnya untuk berprilaku secara terkontrol oleh nilai yang menjadi sumber rujukannya, yaitu Islam.
(d) Sistem nilai tingkah laku dari makhluk (manusia) yang mengandung inter-relasi dengan lainnya. Tingkah laku ini timbul karena adanya tuntutan dari kebutuhan mempertahankan hidup yang banyak diwarnai oleh nilai-nilai motivatif dalam pribadinya (Arifin, 1994: 141).

2. Peranan Aql, Nafs, dan Qolb
Berbicara tentang akhlak, tidak bisa dilepaskan dari permasalahan akal, nafs, dan qolbu. Ketiga hal tersebut adalah perangkat yang membentuk perangai atau tabiat manusia. Walaupun demikian Abdul fattah Jalal (1988), tidak sepakat dengan aql, nafs, dan qolb, tetapi perangkat tabiat manusia menurutnya adalah jism (tubuh), aql, qolb, dan ruh.
Chittick (2001: 56), menggambarkan keterkaitan antara nafs, hati, akal, dan ruh yang memperlihatkan bahwa masing-masing istilah dalam penerapannya seringkali jumbuh, dan menunjuk kepada keserbaragaman tingkat realitas.
Kita, barangkali dapat mengatakan bahwa ruh memiliki wilayah yang paling luas mencakup keseluruhan realitas dalam (bathin) manusia; “akal” berada di bawah pemahaman ruh; dan kata “hati” menggarisbawahi kesadaran (yang bersumber dari ruh), khususnya kesadaran Tuhan. Sedangkan kata “nafs” menyeret jauh dari cahaya kesadaran ruh yang berasal dari perintah Tuhan (pengetahuan dan kesadaran). Seperti halnya jasad, nafs tidak dapat menangkap kilauan cahaya yang bersinar dari balik kegelapannya.
Keterkaitan antara ruh, qalb, dan nafs juga dijelaskan oleh Djawad Dahlan (1999) sebagai berikut.
Di dalam nafs ada qolbu -sebagai sentral ruh- yang berisi sifat-sifat Allah, ilham moralitas, serta bibit iman, juga ada hawa yang merupakan dorongan-dorongan hasrat kebinatangan. Maka nafs harus dikendalikan jangan sampai didominasi oleh hawa (Qs: Al-Naziat: 40). Adapun ruh pada manusia merupakan kemampuan memahami pesan/ajaran/konsep yang secara ringkas disebut kesadaran.

Minggu, 01 Mei 2011

Khalifah

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 30
Oleh: Mohamad Erihadiana

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."


Makna Khalifah menurut Bahasa
Khalifah berasal dari kata khalafa. Menurut Ibn al-Manzhur (Lisân al-‘Arab, I/882, 883, pasal Khalafa), Istakhlafa fulân min fulân (Seseorang mengangkat si fulan), artinya ja'alahu makanahu (Ia menetapkan Fulan menduduki posisinya). Khalafa fulân[un] fulân[an] idzâ kâna khalîfatuhu (Fulan menggantikan si fulan jika dia adalah khalifah (pengganti)-nya). Dikatakan, Khalaftu fulân[an] (Aku menggantikan fulan); akhlufuhu takhlîfan (Aku menggantikannya sebagai pergantian); Istakhlaftuhu ana ja’altuhu khalîfati wa astakhlifuhu (Aku mengangkatnya, aku menetapkan sebagai penggantiku dan aku mengangkatnya).
Jadi, menurut bahasa, khalîfah adalah orang yang mengantikan orang sebelumnya; pengganti yang menggantikan umat atau pemimpin terdahulu; menggantikan malaikat untuk mengurus bumi atau mendapat amanah dari Allah untuk mengelola bumi. Imam Sibawaih mengatakan, khalîfah jamaknya khalâ’if, sedangkan.menurut Imam Ath-Thabari khalifah jamaknya adalah khulafâ’. Makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthân al-a‘zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199).

Khalifah di dalam al-Quran
Al-Quran menyebut kata khalîfah dalam bentuk tunggal terulang dua kali yaitu dalam Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26. Sedangkan bentuk plural/jamaknya terdiri dari dua bentuk, yaitu: (a) Khalaif yang terulang sebanyak empat kali, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39. (b) Khulafa' terulang sebanyak tiga kali pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62. Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata khulafa' yang pada mulanya berarti "di belakang". Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai "pengganti" (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya).
Al-Raghib Al-Isfahani, dalam Mufradat li Alfaz Al-Qur'an, menjelaskan bahwa menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya. Lebih lanjut, Al-Isfahani menjelaskan bahwa kekhalifahan tersebut dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.

Munasabah
Nabi Daud a.s. sebagaimana diceritakan oleh al-baqarah 251, sesudah berhasil membunuh jalut:

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.

Dalam Qs. Shad ayat 26, kemudian Allah Berfirman:
Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan.

Berdasarkan dua ayat tersebut, kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud a.s. bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Ilahi yang mengajarkan kepadanya al-hikmah dan ilmu pengetahuan. Makna "pengelolaan wilayah tertentu", atau katakanlah bahwa pengelolaan tersebut berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat-ayat yang menggunakan bentuk khulafa’ (Perhatikan Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62).
Berbeda dengan kata khala'if, yang tidak mengesankan adanya kekuasaan semacam itu, sehingga pada akhirnya kita dapat berkata bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran khala'if; tanpa menggunakan bentuk mufrad (tunggal). Tidak digunakannya bentuk mufrad untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik itu. Hal ini dapat mewujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
Ditemukan persamaan-persamaan Al-Baqarah ayat 30, yang menggunakan kata khalifah untuk Adam as., dengan ayat yang membicarakan Daud a.s., baik persamaan dalam redaksi maupun dalam makna dan konteks uraian. Adam juga dinamai khalifah. Beliau, sebagaimana Daud, juga diberi pengetahuan --Wa 'allama Adam al-asma' kullaha-- yang kekhalifahan keduanya berkaitan dengan Al-Ardha: Inni ja'il fi al-ardhi khalifah (Adam) dan Ya Daud inna Ja'alnaka khalifatan fi al-ardh (Daud).
Adam dan Daud keduanya digambarkan oleh Al-Quran sebagai pernah tergelincir tetapi diampuni Tuhan. (Baca masing-masing QS 2: 36, 37, dan QS 38:22-25).

Kesimpulan
1. Kata khalifah digunakan oleh Al-Quran untuk siapa yang diberi kekuasaan mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas. Dalam hal ini Daud (1000-947 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
2. Bahwa seorang khalifah berpotensi, bahkan secara aktual, dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Karena itu, baik Adam maupun Daud diberi peringatan agar tidak mengikuti hawa nafsu. (Baca QS 20:16, dan QS 38:26).
3. Pengangkatan Adam sebagai khalifah dijelaskan oleh Allah dalam bentuk tunggal inni (sesungguhnya Aku) dan dengan kata ja'il yang berarti akan mengangkat. Sedangkan pengangkatan Daud dijelaskan dengan menggunakan kata inna (sesungguhnya Kami) dan dengan bentuk kata kerja masa lampau ja'alnaka (Kami telah menjadikan kamu). Wallahu ’alam bis Shawab

Rabu, 06 April 2011

Tazkiyat al-Nafs dalam Persfektif Tasawuf
Oleh: Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd
Tujuan tasawuf adalah mengetahui segala aspek yang berkaitan dengan nafs, baik nafs yang mulia maupun nafs yang tercela. Kemudian melakukan upaya-upaya pembersihan nafs yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang mulia sebagai jalan untuk menuju kepada Allah. Tasawuf memiliki tujuan yang mulia karena berkaitan dengan usaha untuk ma’rifatullâh (mengenal Allah) dan mahabbatullâh (mencintai Allah).
Al-Jurairi menyebutkan tujuan tasawuf adalah membina kebiasaan-kebiasaan baik serta menjaga hati dari keinginan dan hasrat hawa nafsu. Sedangkan Al-Mudarrisi, menyebutkan bahwa tujuan tasawuf adalah zuhd terhadap dunia, mencintai akhirat dan memperbanyak ibadah kepada Allah tanpa meninggalkan sesuatu yang dibolehkan dari kelezatan dunia tetapi dalam batas-batas tertentu. Seorang sâlik (pencari Allah), agar ia dapat mencapai tujuan tasawuf harus melalui tahap-tahap (madârij) tertentu. Tahap-tahap tersebut menurut Ibn Arabi diawali dengan tazkiyat al-nafs
Perjalanan spiritual yang pertama untuk mencapai tujuan tasawuf adalah tazkiyat al-nafs yang diterjemahkan dengan penyucian jiwa. Tazkiyat al-nafs disebut sebagai sulûk nafs, artinya menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji dan malakuti (sifat malaikat), sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela dan hewaninya. Dengan kata lain, diri dibersihkan dari kotoran dan kerusakan.
Tazkiyat al-nafs adalah proses Mujâhadah (pelatihan) untuk mencapai al-nafs al-zakiyyah. Proses tazkiyat al-nafs didasarkan kepada beberapa prinsip. Prinsip yang menjadi dasar dari pelatihan terhadap nafs menurut Nurbakhsy, adalah penghancuran cinta terhadap diri sendiri yang didasarkan pada tujuan untuk mencintai yang selain dirinya.
Sedangkan Al-Ghazali, menyebutkan tiga metode penyucian nafs agar dapat menundukkan dan menguasainya yaitu:
1) berusaha menghindari syahwat (kelezatan dunia), atau menguranginya. Karena jika nafs diibaratkan dengan hewan yang keras kepala, maka sikapnya akan menjadi lembut apabila ia kekurangan makanan;
2) melakukan ibadah-ibadah yang berat bagaikan keledai yang membawa beban berat dalam keadaan lapar, maka ia lebih mudah dikuasai dan ditundukkan;
3) meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan merendahkan diri di hadapan-Nya sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan.
Usaha pembersihan nafs juga harus diikuti tiga syarat yaitu: bersyukur dan tidak mengeluh, waspada dan tidak lengah, mengekang dan tidak terbuai oleh nafs. Tazkiyat al-nafs sangat diperlukan agar kita tidak terjerumus ke dalam bagian terendah dari diri kita yakni nafs ammârah. Frager, menyebutkan pentingnya mujâhadat al-nafs sebagai sebuah perjuangan terhadap perilaku-perilaku buruk dan kesesatan yang dibawa nafs.

Tazkiyat al-Nafs melalui Pendidikan
Nafs zakiyah menurut Fakhr al-Razi adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyat al-nafs dengan bertaubat dari perbuatan dosa. Kesucian nafs bersifat maknawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang akan terpelihara kesucian nafs-nya jika ia konsisten dalam jalan takwa, sebaliknya nafs akan berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujûr. Allah berfirman di dalam al-Quran surat al-Syams/91: 70:

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (Qs. al-Syams/91: 7-10).
Orang yang mengotori jiwanya dipastikan al-Quran sebagai orang yang rugi. Kata dassa (دسّ) secara bahasa berasal dari دسّ-يدسّ yang bermakna menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Berdasarkan ayat tersebut orang yang mengotori jiwanya dengan perbuatan dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat al-Syams/91: 10 berkenaan dengan nafs orang-orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Karena orang saleh meski melakukan perbuatan dosa, tetapi dilakukannya secara sembunyi-sembunyi karena merasa malu. Sedangkan orang kafir melakukan dosa dengan terang-terangan.
Al-Quran memberikan isyarat bahwa tazkiyat al-nafs dilakukan melalui pendidikan atau pembelajaran sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah/2: 129; Alu-Imran/3: 164; al-Jumuah/62: 2.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan al-Hikmah (al-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Qs al-Baqarah/2: 129).
Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Qs Âlu-Imrân/3: 164).
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Qs al-Jumuah/62: 2).

Wallahu’alam

Rabu, 16 Maret 2011

Pendidikan untuk Menerbangkan Potensi Ruhani
Oleh: Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

Menurut al-Ghazali salah satu fungsi pendidikan adalah untuk syiar Islam, memelihara kesucian jiwa, dan taqarrab ila Allah. Pendidikan adalah usaha untuk membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan menyucikan hati agar dekat dengan Sang Khaliq yaitu Allah Swt. Pemikiran tersebut didasarkan pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang mulia. Kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya berupaya memelihara kesucian rohani melaui upaya meningkatkan kemampuan intuitif (al-hadsiyah), ilham dan cita-rasa (al-zawqiyah). Caranya dengan berupaya menajamkan qalbu melalui proses tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa)
Al-Quran memberikan isyarat bahwa tazkiyat al-nafs dilakukan melalui pendidikan atau pembelajaran sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah/2: 129; Alu-Imran/3: 164; al-Jumuah/62: 2.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Qs al-Baqarah/2: 129).
Menilik makna ayat tersebut, maka Pendidikan seharusnya kaya dengan muatan-muatan rohani yang mengarahkan jiwa peserta didik kepada Allah Swt., sehingga melahirkan manusia yang memiliki jiwa yang suci (al-nafs al-zakiyyah). Hanya sayang para guru belum sepenuhnya menyadari arti penting penanaman keimanan yang kuat melalui pendidikan, kebutuhan jiwa yang sehat, dan pentingnya praktik-praktik keagamaan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kebanyakan para pendidik lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan kurang memperhatikan pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Lebih parah lagi ketika nilai-nilai rohani (spiritual), akhlak, dan kesucian jiwa dalam praktik pendidikan di sekolah seringkali hanya dianggap pantas untuk mata pelajaran agama Islam, padahal nilai-nilai spiritual seharusnya terkandung pada semua mata pelajaran. Bukankah tujuan pendidikan sesuai dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang pertama adalah menjadikan murid sebagai manusia yang beriman dan bertakwa?
Rasulullah SAW mengajarkan doa agar Allah SWT memberikan jiwa yang takwa dan suci melalui sabdanya,
“Ya Allah berikanlah kepadaku jiwa yang bertakwa dan jiwa yang bersih karena Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikan jiwa dan Engkau adalah pelindung dan penolong jiwa”.

Wallahu ‘alam bisshawab

Jumat, 11 Maret 2011

RIHLAH RUHYAH

MENGENAL TRAINING “RIHLAH RUHYAH”
Oleh: Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd


Rihlah Ruhyah adalah pelatihan ruhani yang dilakukan pertama kali pada tahun 2005 sampai sekarang, telah diselenggarakan di berbagai tempat, dari mulai SD hingga perguruan tinggi di Bandung dan sekitarnya. UPI, UIN, UNPAD adalah tiga PT yang pernah mengundang tim rihlah ruhyah, bahkan pernah ditawari untuk tampil di Cirebon, hanya karena faktor kesibukan dan padatnya jadwal tawaran dari IAIN Cirebon tersebut terpaksa tidak disanggupi. Selain di lembaga pendidikan formal, pelatihan yang bernama rihlah ruhyah ini juga seringkali menjadi pilihan untuk disampaikan di masjid-masjid, majelis taklim, keluarga besar, perusahaan, dan alumni haji.
Sebagai sebuah pelatihan yang sarat dengan aspek ruhani dan sentuhan emosi, rihlah ruhyah terkadang disalah pahami (terutama oleh orang yang tidak memahami kajian qalb atau ruh) sebagai pelatihan sia-sia yang hanya membuat peserta menangis kemudian histeris hingga ada yang “kesurupan”. Tetapi kenyataan menunjukkan lain, dari 16.000 orang yang pernah mengikuti pelatihan ini rata-rata mendapatkan pengalaman dan peristiwa yang berbeda dan sulit dilupakan dalam kehidupan mereka. Terlebih hal itu sudah dibuktikan lewat penelitian yang mengangkat kajian rihlah ruhyah baik skripsi di UIN SGD Bandung dan menjadi bahan tesis serta disertasi doktoral. Selain itu, memang gagasan rihlah ruhyah tidak begitu saja dibuat tetapi didasari oleh alasan-alasan keilmuan yang logis dan empiris selain tentu saja berdasarkan kajian dalil (Quran-Hadits) yang kuat.
Sederhananya, rihlah ruhyah dapat diartikan sebagai perjalan ruhani, sebuah upaya untuk meningkatkan kecerdasan ruhani. Melakukan muhasabah (evaluasi diri) dan tafakkur sebagai media penting dalam upaya pencapai jiwa yang suci (al-nafs al-zakiyah) atau jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Inilah tahap takhalli (pengosongan diri) yang harus ditindaklanjuti dengan tahap penghiasan diri dengan ketaatan dan amal shaleh (tahalli). Pelatihan rihlah ruhyah menawarkan sesuatu yang berbeda, dengan bantuan multimedia materi-materi seperti zikir, ma’rifatullah (mengenal Allah), ma’rifat al-insan (mengenal manusia), zikr al-maut (mengingat mati), dan birr al-walidain (berbuat baik kepada orang tua), dikemas sedemikian rupa sehingga kaya dengan sentuhan ruhani dan sentuhan afeksi.
Terakhir, walaupun rihlah ruhyah ini sudah sering dilakukan di banyak tempat, namun karena sedikitnya bahan kajian dan sumber daya manusia untuk pengembangan, maka masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam pelatihan rihlah ruhyah ini. Tak ada gading yang tak retak, maka pantaslah jika pengakuan tentang kekurangan rihlah ruhyah ini harus diakui. Hanya kepada Allah-lah diserahkan semua urusan dari kita, manusia yang bodoh, lemah dan fakir ini.
BIODATA
Nama Lengkap : Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd
Tempat dan Tanggal Lahir : Bandung, 13 Juli 1973
Pekerjaan : Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Alamat : Bumi Cipacing Permai Blok I. 14 Jatinangor
Status : Menikah
Pendidikan Formal
1. SDN Tilil 2 Bandung, Lulus Tahun 1985
2. SMPN 7 Bandung, Lulus Tahun 1988
3. SMAN 14 Bandung, Lulus Tahun 1991
4. Sarjana (S-1) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Bandung Tahun 1996.
5. Magister (S-2) Program Studi Pendidikan Umum UPI Bandung Tahun 2005.
6. Doktor (S-3) Program Studi Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2009.
Pendidikan Nonformal
1. Madrasah Diniyah Wustha Al-Ahkam Lulus Tahun 1989
2. Madrasah Diniyah ‘Ulya Al-Ahkam Lulus tahun 1991
Riwayat Pekerjaan
1. Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (2010-sekarang).
2. Dosen STKIP Al-Bana Bekasi (1996-1998).
3. Dosen Pascasarjana Manajemen Pendidikan Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI Jakarta (2009-2010)
4. Guru SMA PGII 1 Bandung (1997-sekarang)
5. Guru SMPN 1 Jatigede Sumedang (1998-2002)
6. Guru SMPN 1 Cimanggung (2002-2009).
Pengalaman Berorganisasi
1. Bidang Diklat BKPRMI Kotamadya Bandung (1995-1998)
2. Bidang Organisasi dan Keanggotaan ADPISI (Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam) Kota Bandung (2007-2011).
3. Pembina FIRDAUS (Forum Silaturahmi Dakwah untuk Sekolah) Bandung (2000-sekarang).
4. Bendahara RW XVII Bumi Cipacing Permai (2006-2010)
5. Ketua DKM Akhlaqul Muhajirin Bumi Cipacing Permai (2008-2011)
6. FIRDAUS (Forum Siilaturahmi dan Dakwah untuk Sekolah)
Kursus/Pelatihan dan Aktivitas Lain
1. 2001: Computer Database and Internet Training
2. 2004: TOEFL Course
3. 2004: In House Training Kurikulum Berbasis Kompetensi
4. 2005-Sekarang: Trainer Rihlah Ruhiyah ( Pelatihan Spiritual)
5. Pengisi ceramah, khutbah, dan Majelis Taklim di wilayah Kota Bandung, Kab. Bandung, dan Sumedang.

Senin, 01 November 2010

UJIAN TENGAH SEMESTER

Mata Kuliah : Pengembangan Kurikulum
Dosen : Dr. Moh. Erihadiana, M.Pd
Jurusan/Semester/Kelas : PAI/5/ B dan C

1. Kurikulum dapat dimaknai secara bahasa maupun terminologi, secara luas maupun sempit, sebagai rencana pendidikan yang harus ditempuh murid (a plan for education) dan lapangan studi (the field of study). Berdasarkan aneka makna kurikulum tersebut, jelaskan pendapat Anda Berdasarkan hasil kajian dan analisis terhadap hal-hal di bawah ini:
a Pengertian kurikulum
b Struktur kurikulum
c Konsep dan teori kurikulum
d Tujuan kurikulum

2. Hilda Taba menyebut kurikulum sebagai “a curriculum is essentially a plan for learning. Bandingkan pernyataan Hilda taba tersebut dengan pengertian kurikulum yang dianut Indonesia berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Buatlah analisis kurikulum yang paling ideal yang mencakup komponen-komponen pendidikan.

3. Kurikulum sangat berkaitan erat dengan teori belajar, jelaskan teori-teori belajar dan sumber sumber belajar yang mempengaruhi kurikulum.

4. Dengan menjelaskan dua istilah di bawah ini terangkan pengorganisasian kurikulum yang didasarkan kepada pengetahuan, masyarakat, dan kebutuhan murid:
a. Subject Curriculum
b. Integrated Curriculum

5. Dalam teori kurikulum terdapat 4 pendekatan pengembangan kurikulum. Jelaskan keempat pendekatan tersebut dan sebutkan pendekatan yang mendasari kurikulum kompetensi.

6. Jelaskan pengertian kurikulum berbasis kompetensi dan apa saja jenis-jenis kompetensi itu, serta jelaskan pula kompetensi yang harus dicapai murid sejak SD, SMP, dan SMA.

7. Terdapat sekurang-kurangnya tiga model pengembangan kurikulum, coba anda jelaskan ketiga model tersebut dan buatlah perbandingan ketiga model tersebut dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

8. Deskrispsikan praktik kurikulum di Indonesia sejak tahun 1968 sampai KTSP dan buatlah analisis sederhana kelebihan dan kekurangan kurikulum (baik 1968, 1975, 1984, 1994, KBK, dan KTSP)

Senin, 07 Juni 2010

Belajar Melalui Hati
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.(Qs. An-Nahl: 78)
What is learning? What happens when one learns, that is, what things does one do in order to learn? What are results of learning, that is, what has one learned? How does one know he has learned anything? How does one now that what is learned is worth learning? How do you get pupils to learn?
Belajar sering dianggap sebagai kegiatan yang lumrah atau biasa dilakukan di sekolah. Atau ada yang berpendapat bahwa belajar itu sama dengan membaca buku, menjawab pertanyaan atau bertanya, mengemukakan pendapat, menulis makalah, membuat tugas-tugas, serta kegiatan lainnya yang sejenis dengan hal itu. Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa ia sudah melakukan kegiatan belajar tatkala sudah lulus ujian.
Benarkah belajar sesederhana itu? Untuk menjawabnya ada baiknya memperhatikan pengertian belajar yang agak mudah dipahami. Katanya belajar itu adalah proses untuk mengaktualkan sesuatu yang telah dipelajari atau istilah Bahasa Inggrisnya “We learn what we do and we do what we learn” (kita mempelajari sesuatu yang dapat kita lakukan dan kita melakukan sesuatu yang kita pelajari). Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa belajar adalah proses memperoleh pengetahuan.
Supaya mudah, kita ambil pendapat yang kedua saja,yaitu belajar sebagai proses untuk memperoleh pengetahuan. Nah, menurut seorang pakar pendidikan, belajar untuk memperoleh ilmu atau pengetahuan dapat dilakukan melalui tiga cara. Pertama, belajar melalui indera. Melalui cara belajar ini dihasilkan sains yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kedua, belajar dengan menggunakan akal atau rasio yang menghasilkan pemikiran-pemikiran logis untuk memecahkan permasalahan manusia. Ketiga, belajar untuk mendapatkan pengetahuan melalui hati atau qalbu yang menghasilkan manusia suci jiwanya (al-nafs al-zakiyyah)
Dari tiga cara belajar yang disebutkan, cara ketiga adalah cara belajar yang jarang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan, padahal belajar melalui hati sebenarnya dimaksudkan untuk mempertajam serta mengasah rasa atau hati. Belajar melalui hati adalah belajar untuk meresapkan potensi rohani dan menumbuhkan keimanan pada diri sehingga terpenuhi naluri alamiahnya terhadap agama. Selain itu, belajar melalui hati adalah melatih naluri beragama disesuaikan dengan tingkah laku yang didasarkan pada nilai-nilai rohani dan norma-norma akhlak bersandar iman yang sempurna.
Belajar dengan hati juga merupakan usaha pembersihan rohani, penyucian jiwa, mencerdaskan akal, memperbaiki akhlak, dan membersihkan badan. Semua usaha itu berkaitan erat dengan keyakinan kepada Allah SWT. Semua itu sesuai dengan tujuan dakwah Rasulullah SAW yang dipenuhi oleh unsur-unsur kesempurnaan dan keagungan dalam pembentukkan mukmin yang sempurna secara rohani, akal, agama, akhlak, masyarakat, dan fisik, serta menjadikan mukmin yang bahagia dunia akhirat.